Baru Seumur Jagung, Proyek Irigasi Miliaran Rupiah di Manggarai Timur Alami Kerusakan
BORONG, iNewsAlor.id - Proyek rehabilitasi jaringan irigasi senilai miliaran rupiah di wilayah Pota, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), menuai sorotan tajam. Meski usia pekerjaan belum genap satu tahun, sejumlah titik konstruksi dilaporkan sudah mengalami kerusakan serius.
Pantauan di lapangan menunjukkan bagian konstruksi beton pada proyek milik Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara II tersebut mulai retak dan mengelupas. Kondisi ini memicu kekhawatiran besar bagi para petani, mengingat jaringan ini merupakan urat nadi bagi sekitar 2.000 hektare lahan persawahan di wilayah tersebut.
Proyek yang mencakup 34 titik ini dikerjakan oleh PT Adhi Karya dengan CV Delta Flores sebagai subkontraktor. Namun, hingga Maret 2026, pekerjaan di titik irigasi Tiwu Sengit, Pota, terpantau belum tuntas dan belum dilakukan serah terima.
Lurah Pota, Andi Hamid, menegaskan bahwa pihaknya minim informasi mengenai kelanjutan proyek ini. Ia juga mengaku telah menerima banyak aduan dari petani yang resah karena proses pengerjaan yang amburadul justru mengganggu aktivitas musim bajak.
“Belum ada serah terima sampai sekarang. Pengerjaan seharusnya selesai 30 Desember lalu, namun kenyataannya sampai bulan Februari masih berjalan dan sudah banyak kerusakan. Petani sangat terganggu,” ujar Andi.
Andi menambahkan, selain keterlambatan, kualitas material yang digunakan menjadi tanda tanya besar. Muncul dugaan penggunaan pasir laut dan material lokal tanpa melalui uji laboratorium yang semestinya.
Hal senada diungkapkan oleh Sulatin, warga Sambi Rampas. Ia menyoroti minimnya komunikasi kontraktor dengan masyarakat setempat.
“Pengerjaan dimulai Oktober 2025 dan harusnya selesai Desember. Selain kendala cuaca, kami melihat ada dugaan penggunaan batu kali dan pasir lokal tanpa standar teknis demi mengejar target,” ungkapnya.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar terkait fungsi pengawasan dari Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan konsultan pengawas. Lemahnya kontrol di lapangan diduga menjadi penyebab utama pengerjaan tidak mengikuti Kerangka Acuan Kerja (KAK).
Kerusakan serupa ternyata tidak hanya terjadi di Pota. Laporan menunjukkan proyek irigasi Wae Locak II di Kabupaten Manggarai, yang berasal dari sumber dana APBN yang sama, juga mengalami retak hingga patah pada konstruksi betonnya.
Pihak subkontraktor, Deni Nggana, mengklaim bahwa proyek telah selesai sejak sebulan lalu. Namun, ia enggan memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai temuan kerusakan dan kualitas material di sejumlah titik tersebut.
Editor : Danny Manu