BORONG, iNewsAlor.id – Di tengah puing-puing bangunan sekolah yang rusak akibat gempa yang mengguncang wilayah Flores, semangat anak-anak untuk kembali belajar belum padam.
Namun, untuk sementara waktu, ruang kelas yang biasanya dipenuhi suara guru dan siswa belum dapat digunakan. Kerusakan fasilitas pendidikan memaksa kegiatan belajar mengajar dihentikan dan membuat para siswa harus belajar dari rumah maupun di posko pengungsian.
Kondisi ini masih dirasakan sejumlah sekolah, salah satunya, siswa SDI Wae Dara, Kecamatan Lamba Leda Timur, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
Perpanjangan masa tanggap darurat hingga 12 September membuat kegiatan belajar tatap muka belum dapat kembali berjalan seperti biasanya. Keselamatan siswa menjadi pertimbangan utama, mengingat sejumlah fasilitas sekolah mengalami kerusakan akibat gempa.
Kepala SDI Wae Dara, Marselinus Junaidi, mengatakan selama masa tanggap darurat, pihak sekolah meminta siswa tetap belajar dari rumah atau memanfaatkan posko pengungsian.
“Selama ini kami meminta anak-anak belajar di rumah atau di posko pengungsian,” ujar Junaidi.
Meski kondisi belum sepenuhnya pulih, sekolah tidak ingin anak-anak terlalu lama kehilangan ruang untuk belajar.
Pihak sekolah kini mulai menyiapkan tenda darurat yang nantinya digunakan sebagai ruang kelas sementara. Di tempat sederhana inilah, para siswa diharapkan dapat kembali belajar sambil menunggu fasilitas sekolah diperbaiki.
Junaidi mengatakan, pemerintah telah memberikan bantuan berupa sejumlah perlengkapan untuk mendukung penyediaan tempat belajar sementara, di antaranya tenda dan terpal.
Bantuan tersebut menjadi angin segar bagi sekolah dan para siswa. Namun, kebutuhan masih belum sepenuhnya terpenuhi.
“Sekarang kami masih mempersiapkan tenda darurat sebagai tempat belajar sementara, sehingga aktivitas belajar tetap bisa berjalan. Kami juga berharap kebutuhan lainnya dapat dilengkapi pemerintah karena masih ada kekurangan terpal dan tenda,” katanya.
Bagi para siswa SDI Wae Dara, tenda darurat bukan sekadar tempat berteduh. Di tengah kondisi sekolah yang belum bisa digunakan, tenda itu akan menjadi ruang untuk kembali membuka buku, mendengarkan guru, dan mengejar pelajaran yang sempat terhenti.
Gempa mungkin merusak ruang kelas mereka. Tetapi, semangat untuk kembali belajar diharapkan tidak ikut runtuh bersama bangunan sekolah.
Editor : Danny Manu
Artikel Terkait
