Dibangun Megah, 3 Dapur MBG di Manggarai Timur Tak Kunjung Beroperasi
BORONG, iNewsAlor.id – Tiga unit dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Manggarai Timur, NTT hingga kini belum beroperasi, meski pembangunan fisiknya telah rampung sejak 2025.
Ketiga dapur SPPG tersebut berada di Kecamatan Borong, Congkar, dan Elar. Bangunan telah selesai dibangun dan dilengkapi berbagai peralatan memasak, namun hingga saat ini tidak terlihat adanya aktivitas operasional.
Pantauan di lapangan menunjukkan seluruh dapur masih tertutup rapat dan terkunci. Warga sekitar menyebut belum pernah melihat adanya kegiatan memasak sejak bangunan tersebut selesai dibangun.
“Sudah lama selesai, tapi tidak pernah ada aktivitas. Tidak ada asap dapur sama sekali,” ujar salah seorang warga.
Ketua Pelita Prabu Manggarai Timur, Remigius Magung atau yang kerap di sapa Cemik, mengungkapkan bahwa salah satu dapur yang telah rampung adalah SPPG Satar Peot di Kelurahan Satar Peot, Kecamatan Borong. Pembangunan dapur tersebut dimulai sejak April 2025 dan telah dilaporkan selesai 100 persen ke pemerintah pusat pada tahun yang sama.
“Bahkan status di portal BGN sudah Penetapan KA SPPG sejak 29 Oktober 2025. Artinya secara administrasi seharusnya sudah siap beroperasi,” ujarnya.
Namun hingga memasuki Mei 2026, dapur tersebut belum juga beroperasi. Cemik menilai perlu adanya evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan program MBG oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Ia juga menyoroti proses koordinasi yang dinilai belum jelas. Berdasarkan penelusuran di lapangan, pihak vendor dan yayasan pengelola disebut telah berulang kali mengurus ke BGN pusat, namun belum mendapatkan kepastian operasional.
“Jawabannya selalu masih di meja pejabat pusat, tetapi sampai sekarang belum ada kejelasan,” katanya.
Hal serupa terjadi pada SPPG Congkar. Meski sempat mendapatkan identitas (ID) dalam proses pengajuan, lokasi tersebut ditolak dengan alasan kuota SPPG di wilayah itu telah terpenuhi. Padahal, di lapangan belum ada dapur yang beroperasi.
Cemik mempertanyakan lambatnya proses operasional dibandingkan dengan cepatnya pembangunan fisik dapur.
“Setahun persiapan untuk apa? Kalau bangunan bisa cepat selesai, kenapa operasional justru terbengkalai?” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini sangat memprihatinkan mengingat Manggarai Timur masih memiliki angka stunting yang tinggi dan sangat membutuhkan intervensi gizi. Ia mendesak agar dapur yang sudah dibangun segera dioperasikan, serta meminta kejelasan penanggung jawab program di tingkat pusat maupun daerah.
Selain itu, ia juga meminta agar pemerintah menghentikan pembangunan dapur baru sebelum fasilitas yang sudah ada benar-benar berfungsi.
“Rakyat butuh makanan di piring, bukan sekadar bangunan untuk seremoni,” tegasnya.
Cemik juga mendorong agar pemerintah daerah dilibatkan dalam operasional apabila pihak pusat belum mampu menjalankan program secara optimal.
Ia berharap pihak terkait segera turun ke lapangan untuk menyelesaikan persoalan ini agar tujuan program MBG dapat benar-benar dirasakan masyarakat.
“Ini menyangkut masa depan anak-anak. Jangan sampai program baik justru gagal karena pengelolaan yang tidak profesional,” pungkasnya
Editor : Danny Manu