BORONG, iNewsAlor.id - Mutu pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, kemampuan akademik pelajar NTT berada di peringkat 36 dari 38 provinsi di Indonesia. Kondisi ini mendorong Pemerintah Provinsi NTT mengambil langkah strategis melalui peluncuran Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 24 Tahun 2026 tentang Gerakan Jam Belajar di Lingkungan Masyarakat.
Dalam sambutannya, Melki menegaskan persoalan pendidikan di NTT harus dibenahi secara menyeluruh, mulai dari peningkatan kualitas guru, perbaikan sarana pendidikan, hingga penguatan peran keluarga dalam mendampingi anak belajar di rumah.
“Ada perbedaan kompetensi pedagogik yang cukup jauh jika dibandingkan dengan guru-guru zaman dulu. Ini kondisi kritis yang harus kita sempurnakan bersama. Kita harus memperbaiki ini mulai dari kualitas guru hingga sarana pendidikan,” ujar Melki.
Menurut dia, tingginya kualifikasi akademik guru, mulai dari S1, S2 hingga doktor, belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kualitas transfer ilmu kepada peserta didik. Karena itu, pembenahan pendidikan tidak cukup hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga harus melibatkan keluarga dan lingkungan masyarakat.
Melalui Pergub Nomor 24 Tahun 2026, Pemprov NTT mendorong terbentuknya ekosistem pendidikan berbasis keluarga. Orang tua diharapkan terlibat aktif dalam mendampingi anak belajar di rumah melalui Gerakan Jam Belajar yang dilaksanakan secara rutin setiap Senin hingga Jumat di luar jam sekolah.
Program ini dijalankan secara fleksibel dengan menyesuaikan aktivitas keagamaan serta adat dan budaya lokal setempat. Selain itu, kebijakan tersebut juga mengatur pembatasan penggunaan gawai pada jam-jam tertentu guna menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif di lingkungan keluarga.
Gerakan Jam Belajar tidak hanya difokuskan pada penyelesaian tugas sekolah atau penguasaan mata pelajaran, tetapi juga mencakup penguatan karakter, nilai spiritual, literasi dasar, serta pengenalan budaya lokal.
“Anak-anak didik kita harus kita dorong untuk memiliki kemampuan akademik yang baik, karakter yang kuat, serta jiwa kewirausahaan agar kelak mampu mengelola berbagai potensi NTT dengan baik,” katanya.
Melki menambahkan, sinergi antara sekolah dan rumah menjadi kunci penting dalam membangun kebiasaan belajar yang kuat sekaligus membentuk karakter generasi muda NTT.
“Anak-anak itu perlu didampingi, bukan sekadar diawasi. Melalui sinergi kuat antara sekolah dan rumah, kita ingin membangun kebiasaan belajar yang kokoh sekaligus menanamkan kasih sayang dalam pembentukan karakter generasi masa depan NTT,” ucapnya.
Editor : Danny Manu
Artikel Terkait
