get app
inews
Aa Text
Read Next : Putra NTT Resmi Gagas Badan Sertifikasi Bertaraf Global

Jejak Penyakit Kusta di Balik Eksotisme Manggarai Timur NTT, 8 Warga Terpapar

Sabtu, 07 Februari 2026 | 20:13 WIB
header img
Ilustrasi penyakit Kusta (iNews.id)

FLORES, iNews.Alor.id — Di balik kabut yang menyelimuti perbukitan Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), tersimpan persoalan kesehatan masyarakat yang jarang dibicarakan secara terbuka. Wilayah yang tersohor dengan kopi dan bentang alam eksotis ini ternyata masih menyimpan jejak penyakit purba bernama kusta. Ia hadir senyap, berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain tanpa banyak disadari.

Bagi sebagian orang, kusta terdengar seperti kutukan masa lalu. Namun bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur, penyakit ini adalah kenyataan hari ini sebuah ancaman yang menuntut kewaspadaan serius.

Alarm dari Wilayah Mukun

Tahun 2025 menjadi pengingat pahit. Di tengah kemajuan dunia medis, dua kasus baru kusta ditemukan di wilayah Mukun, Kecamatan Kota Komba Utara. Temuan ini menambah catatan sejak 2018, dengan total delapan warga Manggarai Timur teridentifikasi mengidap penyakit yang disebabkan bakteri Mycobacterium leprae.

Secara statistik, angka delapan mungkin tampak kecil dalam peta kesehatan nasional. Namun dalam perspektif kesehatan masyarakat, satu kasus kusta saja sudah cukup menjadi alarm merah.

“Kusta adalah penyakit menular kronis yang menyerang kulit dan saraf tepi,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P3P) Dinas Kesehatan Manggarai Timur, Bonefasius Dar.

“Bahaya kusta bukan hanya pada kerusakan fisik, tetapi juga pada rantai penularan yang panjang serta risiko kecacatan permanen jika terlambat ditangani,” tambahnya.

Melawan Mati Rasa, Menghapus Stigma

Tantangan terbesar dalam penanggulangan kusta bukan terletak pada ketersediaan obat, melainkan pada “mati rasa” baik secara medis maupun sosial. Di banyak desa, bercak putih pada kulit, mati rasa, atau kesemutan berkepanjangan kerap dianggap gangguan biasa.

Akibat minimnya informasi, penderita baru mendatangi Puskesmas ketika saraf sudah mulai rusak, jari-jari kaku, atau fungsi anggota tubuh terganggu. Pada fase inilah stigma muncul dan menguat, menciptakan ketakutan bagi penderita lain untuk memeriksakan diri.

Padahal, di era modern, kusta merupakan penyakit yang dapat disembuhkan. Melalui pengobatan Multidrug Therapy (MDT) yang disediakan gratis oleh pemerintah, penderita tidak hanya dapat pulih, tetapi juga berhenti menjadi sumber penularan bagi keluarga dan lingkungan sekitar.

Strategi 2026: Keluar dari Persembunyian 

Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur tak ingin terus kalah oleh kesunyian dan stigma. Sejumlah langkah progresif mulai disiapkan.

Mulai 2026, skrining kusta akan diintegrasikan ke dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG), sehingga pemeriksaan tidak lagi dilakukan secara khusus atau tertutup.

“Kami ingin pemeriksaan kusta menjadi hal yang biasa, bagian dari pelayanan kesehatan umum,” kata Bonefasius. Dengan pendekatan ini, masyarakat diharapkan tidak lagi merasa malu atau takut distigmatisasi saat diperiksa.

Selain itu, setiap temuan kasus akan diikuti respons cepat berupa pemberian obat pencegahan (profilaksis) kepada kontak serumah, sebagai langkah memutus rantai penularan sejak dini.

Harapan di Ujung Jalan

Perjuangan melawan kusta di Manggarai Timur adalah kerja jangka panjang yang sunyi. Ia menuntut konsistensi tenaga kesehatan di Puskesmas, peran aktif perangkat desa, serta keberanian warga untuk saling mengingatkan dan peduli.

Kusta mungkin masih bersembunyi di balik rimbunnya perkebunan kopi dan rumah-rumah di lereng bukit. Namun melalui deteksi dini, keterbukaan, dan edukasi berkelanjutan, Manggarai Timur sedang menulis akhir cerita yang berbeda—sebuah masa depan tanpa kecacatan, tanpa stigma, dan tanpa kehilangan martabat hanya karena bakteri yang sesungguhnya bisa dikalahkan.

Editor : Iren Leleng

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut