Dipicu Sengketa Tanah, Dua Kelompok Warga di Manggarai Nyaris Perang Tanding
RUTENG, iNewsAlor.id– Sengketa tanah ulayat di Desa Bulan, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, memicu ketegangan serius pada Senin (16/3/2026). Dua kelompok masyarakat adat, warga Gendang Bung Leko dan Gendang Bung Kaca, nyaris terlibat bentrokan setelah saling berhadapan dengan senjata tajam.
Puluhan warga dari kedua kubu dilaporkan membawa parang dan sempat saling menghadang. Situasi di lokasi sangat tegang karena jarak antara kedua kelompok hanya sekitar dua hingga tiga meter.
Bentrokan berhasil dicegah setelah aparat kepolisian bersama pemerintah desa bergerak cepat melerai massa.
Kapolres Manggarai, AKBP Levi Defriansyah, mengatakan aparat langsung turun ke lokasi untuk meredam ketegangan dan mengarahkan warga kembali ke rumah adat masing-masing.
“Kami meminta kedua kelompok untuk menahan diri dan kembali ke gendang masing-masing demi menjaga situasi tetap kondusif,” kata Levi.
Kepala Desa Bulan, Yuvensianus Hamat, menjelaskan peristiwa itu dipicu oleh aktivitas warga di lahan yang sedang disengketakan. Saat warga Gendang Bung Kaca kembali dari lokasi tanah ulayat tersebut, informasi itu memicu reaksi warga Gendang Bung Leko yang kemudian bergerak menuju lokasi yang sama.
Pertemuan kedua kelompok di jalur transportasi utama desa memicu ketegangan dan hampir berujung bentrok.
Menurut Yuvensianus, konflik tersebut berakar dari klaim kepemilikan atas sebidang tanah ulayat. Kedua kelompok masyarakat adat sama-sama menganggap memiliki hak yang sah secara adat atas lahan tersebut.
“Pemicunya karena masing-masing pihak merasa memiliki hak atas tanah itu,” ujarnya.
Untuk meredam situasi, aparat gabungan dari Polres Manggarai bersama aparat desa dan pemerintah Kecamatan Ruteng mendatangi rumah adat atau gendang dari masing-masing kelompok untuk memberikan himbauan serta menenangkan massa.
Aparat juga meminta kedua pihak tidak melakukan aktivitas apa pun di lokasi sengketa hingga persoalan diselesaikan melalui proses mediasi.
Konflik agraria tersebut rencananya akan dibawa ke tingkat Pemerintah Kabupaten Manggarai guna mencari solusi permanen melalui jalur musyawarah adat maupun mekanisme hukum.
Sementara itu, Kabid Humas Polda NTT Henry Novika Chandra menegaskan bahwa Polri mengedepankan pendekatan dialog dan kemanusiaan dalam menangani potensi konflik di masyarakat.
Salah satu momen yang menarik perhatian terjadi ketika seorang anggota polisi berlutut di tengah jalan memohon kepada warga agar tidak melakukan kekerasan.
Tindakan tersebut akhirnya berhasil meredakan emosi massa sehingga bentrokan dapat dicegah.
Saat ini situasi di Desa Bulan dilaporkan kembali kondusif, meskipun aparat keamanan masih melakukan pemantauan untuk mengantisipasi potensi konflik lanjutan.
Editor : Iren Leleng