Konferda GMNI NTT, Momen Haru dan Penegasan Komitmen Mengenang Perjuangan 1999
Kemiskinan di NTT ditegaskan bukan karena rakyatnya malas, melainkan akibat perlakuan kebijakan fiskal yang tidak adil dari pusat.
Menyitir pesan mendalam Bung Karno, ditegaskan kembali bahwa Indonesia bukanlah bangsa yang kebetulan memiliki pulau, melainkan sebuah Negara Kepulauan yang utuh—darat, laut, dan udaranya merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipenggal-penggal.
Oleh karena itu, PA GMNI NTT secara konsisten mendesak agar NTT segera ditetapkan secara regulasi sebagai Provinsi Kepulauan agar pembagian kue nasional bisa dilakukan secara adil.
Soliditas dan Distribusi Kader di Ruang Strategis
Sekretaris Jenderal DPP PA GMNI, Abdi Yuhana, yang hadir untuk membuka acara secara resmi, menyatakan rasa kagumnya terhadap capaian PA GMNI NTT. Ia menyebut Konferda NTT kali ini sangat istimewa karena dipenuhi oleh cerita sukses (success stories) distribusi kader yang nyata di lapangan.
Ini membuktikan bahwa PA GMNI NTT benar-benar menjadi sumber kader yang solid dan mampu mengisi ruang-ruang strategis demi kemajuan daerah," pungkas Abdi
Semangat Bergotong Royong Menatap Masa Depan
Acara yang dihadiri oleh tokoh-tokoh senior seperti Anggota DPR RI Andreas Hugo Parera (Bang Andre), para mantan Pembantu Rektor Undana, serta tokoh politik lokal seperti Yunus Takandewa Ketua DPD PDI Perjuangan NTT ditutup dengan seruan bersama untuk memperkuat kembali nilai gotong royong yang mulai pudar di tengah masyarakat.
Melalui lagu kebangsaan Indonesia Raya tiga stanza yang dinyanyikan dengan khidmat, para alumni diingatkan bahwa mencintai Indonesia harus dimulai dengan mencintai dan membangun daerahnya sendiri. Konferda II ini diharapkan mampu melahirkan gagasan-gagasan segar dan strategis dari NTT untuk Indonesia yang lebih adil dan makmur.
Kegiatan Pembukaan konferda ll Persatuan Alumni DPD GMNI NTT ditutup dengan pemukulan gong yang di lakukan oleh Sekertaris jendral PA DPP dan di saksi oleh seluruh alumni GMNI NTT
Editor : Danny Manu