iKUPANG,iNewsAlor.id-Suasana emosional dan penuh nostalgia menyelimuti pembukaan Forum Konferensi Daerah (Konferda) II Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Nusa Tenggara Timur (NTT). Acara yang berlangsung di Hotel Sasando internasional, Kupang, ini menjadi panggung refleksi sejarah sekaligus penegasan komitmen para alumni untuk mengawal masa depan bumi Flobamora.
Mengenang 1999: Titik Balik Perjuangan Alumni GMNI
Dalam sambutan pembuka Ketua DPD PA GMNI Nusa Tenggara Timur Yosh dasi djawa mengajak seluruh kader dan undangan yang hadir untuk melakukan napak tilas ke tahun 1999. Tahun tersebut dinilai sebagai momentum krusial bagi keluarga besar GMNI di NTT.
"Tahun 1999 adalah momentum penting di mana kita merapatkan barisan dan menghantarkan putra-putri terbaik kita untuk menempati posisi-posisi politik, birokrasi, dan sektor pelayanan publik lainnya," ujarnya dengan penuh semangat.
Pemilihan hotel ini sebagai lokasi Konferda II pun bukan tanpa alasan sejarah. Pada tahun 1999, saat banyak pihak meragukan kesiapan NTT, tempat ini menjadi saksi bisu pelaksanaan Kongres GMNI.
Ketika tahun 2026 ini banyak orang berpaling, PA GMNI NTT mengambil keputusan berani untuk kembali menggelar kegiatan besar di tempat ini. Ini adalah bentuk kesadaran kritis kita untuk belajar dari proses sejarah," tegasnya. (18/07/2026).
Indonesia sebagai Negara Kepulauan: Otokritik untuk Pemerintah Pusat
Tak sekadar bernostalgia, Ketua DPD PA GMNI NTT juga memanfaatkan momentum ini untuk menyampaikan otokritik yang tajam terhadap kebijakan pembangunan nasional. Menyoroti wilayah NTT yang didominasi oleh lautan (sekitar 73% wilayah perairan dan hanya 27% daratan), ia mengkritik cara pandang pemerintah pusat yang dinilai masih mendegradasi potensi daerah kepulauan.
Pemerintah pusat dinilai masih memisahkan regulasi antara daratan dan lautan secara kaku.
Formula DAU (Dana Alokasi Umum) dan DAK (Dana Alokasi Khusus) dinilai belum berpihak pada luas laut, melainkan hanya menghitung luas daratan.
Kemiskinan di NTT ditegaskan bukan karena rakyatnya malas, melainkan akibat perlakuan kebijakan fiskal yang tidak adil dari pusat.
Menyitir pesan mendalam Bung Karno, ditegaskan kembali bahwa Indonesia bukanlah bangsa yang kebetulan memiliki pulau, melainkan sebuah Negara Kepulauan yang utuh—darat, laut, dan udaranya merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipenggal-penggal.
Oleh karena itu, PA GMNI NTT secara konsisten mendesak agar NTT segera ditetapkan secara regulasi sebagai Provinsi Kepulauan agar pembagian kue nasional bisa dilakukan secara adil.
Soliditas dan Distribusi Kader di Ruang Strategis
Sekretaris Jenderal DPP PA GMNI, Abdi Yuhana, yang hadir untuk membuka acara secara resmi, menyatakan rasa kagumnya terhadap capaian PA GMNI NTT. Ia menyebut Konferda NTT kali ini sangat istimewa karena dipenuhi oleh cerita sukses (success stories) distribusi kader yang nyata di lapangan.
Ini membuktikan bahwa PA GMNI NTT benar-benar menjadi sumber kader yang solid dan mampu mengisi ruang-ruang strategis demi kemajuan daerah," pungkas Abdi
Semangat Bergotong Royong Menatap Masa Depan
Acara yang dihadiri oleh tokoh-tokoh senior seperti Anggota DPR RI Andreas Hugo Parera (Bang Andre), para mantan Pembantu Rektor Undana, serta tokoh politik lokal seperti Yunus Takandewa Ketua DPD PDI Perjuangan NTT ditutup dengan seruan bersama untuk memperkuat kembali nilai gotong royong yang mulai pudar di tengah masyarakat.
Melalui lagu kebangsaan Indonesia Raya tiga stanza yang dinyanyikan dengan khidmat, para alumni diingatkan bahwa mencintai Indonesia harus dimulai dengan mencintai dan membangun daerahnya sendiri. Konferda II ini diharapkan mampu melahirkan gagasan-gagasan segar dan strategis dari NTT untuk Indonesia yang lebih adil dan makmur.
Kegiatan Pembukaan konferda ll Persatuan Alumni DPD GMNI NTT ditutup dengan pemukulan gong yang di lakukan oleh Sekertaris jendral PA DPP dan di saksi oleh seluruh alumni GMNI NTT
Editor : Danny Manu
Artikel Terkait
