Kupang, iNewsAlor.id – Kepergian Mgr. Petrus Turang, Pr, Uskup Agung Kupang (Emeritus), meninggalkan duka mendalam bagi umat Katolik dan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT). Uskup yang dikenal sebagai sosok "bapa semua umat" ini dikenang karena ketegasan, kerendahan hati, serta dedikasinya dalam membangun iman dan kesejahteraan umat.
Aktivis Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) NTT, Ana Waha Kolin, Sabtu (5/4/2025) turut mengungkapkan rasa kehilangan atas wafatnya Mgr. Turang. “Beliau sosok yang tegas tapi sangat rendah hati. Sumbangsihnya sangat besar dalam membangun ekonomi umat dan membina iman, bahkan hingga ke pelosok-pelosok,” ungkap Ana, yang juga menjabat sebagai Ketua Kaukus Perempuan Politik NTT sekaligus Anggota DPRD Provinsi NTT dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Lebih lanjut, Ana menyebut Mgr. Turang sebagai tokoh pemersatu di tengah kemajemukan masyarakat NTT. “Beliau tidak pernah membuat sekat dengan umat beragama lain. Bahkan ketika simbol-simbol keagamaan Katolik dihina, beliau tetap mengedepankan hukum cinta kasih. Itu yang membuat kami sangat kehilangan,” ujarnya.
Menurut Ana, kepergian almarhum merupakan bagian dari rencana Tuhan yang tidak bisa dijangkau oleh manusia. “Sebagai manusia, kita tidak bisa berbuat banyak. Rencana Tuhan bukanlah rencana manusia, tapi itulah kehendak yang harus dijalankan. Karya Allah adalah agung bagi semua orang,” tuturnya dengan penuh haru.
Kepergian Uskup Turang juga mendapat perhatian dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan Presiden Prabowo memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum di Gereja Katedral Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Presiden diterima langsung oleh Kardinal Mgr. Ignatius Suharyo.
Kehadiran Presiden Prabowo menjadi bentuk penghargaan negara terhadap jasa dan teladan Mgr. Petrus Turang dalam membangun nilai-nilai toleransi, persatuan, dan kasih di tengah kehidupan berbangsa dan beragama.
Mengakhiri ungkapannya, Ana Waha Kolin menyampaikan salam perpisahan yang menyentuh. “Selamat jalan, Yang Mulia. Engkau sungguh telah mengamalkan motomu Pertransiit Benefaciendo – berjalan sambil berbuat baik,” tutup Ana.
Editor : Danny Manu
Artikel Terkait